Marhaban ya Ramadhan …

Posted by tonang on Aug 22nd, 2009

Hari ini kita memulai Ramadhan 1430 H (2009). Tadi setelah sahur menunggu subuh, saya menulis suatu renungan berjudul Pukulan ke 100 itu. Terpikir kemudian, saya - semoga tidak termasuk Anda - tanpa sadar terjebak pada pola pikir yang sama ketika menghadapi Ramadhan.

Selama ini, kita lihat bahwa memasuki Ramadhan, semangat kita beribadah begitu menggelora. Masjid penuh sesak kadang sampai tidak cukup memuat jamaah. Mushaf Al Qur’an yang selama ini “jadi hiasan” - kadang sampai berdebu - sekarang dibuka. Target “meng-khatamkan” selama Ramadhan sering terpancang di awal bulan. Menakjubkan!

Saya - sekali lagi semoga tidak termasuk Anda - seolah berpikir mirip peribahasa “panas setahun dibayar hujan sehari”. Bukan berarti peribahasa itu salah, saya yang salah menerjemahkannya. Seolah-olah, 11 bulan sebelumnya itu cerita lalu. Yang penting 1 bulan Ramadhan ini kita bersungguh-sungguh.

Padahal, yang terpikir oleh saya sekarang, 1 bulan itu hanya seperti “pukulan ke 100″ di tulisan sebelumnya. Saya tidak bermaksud mengurangi keluhuran Bulan Ramadhan. Tetapi sebenarnyalah, suatu yang absurd bila kita lantas berpikir, mau seperti apapun 11 bulan sebelumnya, yang penting Ramadhan kita “baik-baik”. Saya menjadi sadar sekarang bahwa seharusnya 11 bulan sebelumnya itu pun penuh usaha, penuh ibadah. Memasuki bulan Ramadhan, kita tinggal “tancap gas” untuk memaksimalkan hasil menjelang garis finish. Dengan demikian, perjuangan 11 bulan sebelumnya itu akan tersempurnakan pada bulan Ramadhan.

Sungguh, ternyata banyak jalan menyadarkan kita. Karena menulis tulisan sebelumnya itu, saya tersadarkan oleh kesalahan selama ini. Semoga momentum kesadaran itu akan terus berdenyut dan makin kencang.

Saya berdoa semoga kita berhasil menyempurnakan perjuangan ibadah tahun ini dengan bersungguh-sungguh menjalani Bulan Ramadhan. Amin.

Selamat ber-Ramadhan!

Pukulan ke 100 itu …

Posted by tonang on Aug 22nd, 2009

Beberapa waktu lalu, ada pelajaran sangat berharga yang saya dapatkan. Secara mendadak, malam-malam, ada perintah dari pucuk pimpinan untuk suatu tugas tertentu. Tugas ini sebenarnya bagian final atau tahap akhir dari suatu proses panjang. Ada sebuah tim yang mengikuti proses panjang itu. Sementara saya sendiri tidak tahu menahu proses panjang itu karena sama sekali tidak terlibat. Karena sesuatu hal, malam itu saya ditugaskan untuk segera bergabung pada pagi harinya.

Awalnya, bayangan tugas itu relatif tidak sulit. Saya diminta menemani delegasi tamu dari sebuah lembaga keuangan internasional. Delegasi itu bertujuan melakukan visitasi untuk penilaian (appraisal) proposal kredit lunak. Bayangan yang saya tangkap, saya bertugas mulai dari menjemput, menemani sepanjang hari sampai malam, begitu terus sampai tamunya pulang. Sepanjang waktu itu, tugas saya menjawab hal-hal ringan – artinya tidak terkait langsung dengan pokok masalah. Misalnya sekedar ucapan salam, cerita ringan seputar kota Solo, mencari tahu keinginan mereka tentang agenda kerja, ingin makan dimana dan sejenisnya. Sedangkan saat tamu bertemu dengan tim tuan rumah, tugas saya sebagai penerjemah. Pendek kata, tugas saya adalah sebagai translator bagi tamu tersebut.

Yang terjadi kemudian, situasi begitu dinamis. Ternyata, sebelumnya telah terjadi “masalah” sehingga proses di tahap final itu hampir terhenti. Karena itu, datanglah delegasi tersebut langsung ke lapangan. Pada perkembangannya, saya mendapat tugas untuk menyampaikan presentasi. Masalahnya, pengetahuan saya tentang materi presentasi itu sendiri hampir nol. Bingung kan?

Jadilah kemudian saya terlibat diskusi dalam waktu mepet, hanya sehari, padahal proses sebelumnya sudah begitu panjang. Malamnya, saya berjaga untuk mencoba memahami benang merah masalah. Kemudian menuangkannya ke dalam presentasi. Tentu saja, saya lakukan perubahan tampilan isi presentasi, agar saya sendiri tidak kebingungan membacanya. Juga - harapan saya - presentasi bisa concise, precise but convincing. Karena yang diharapkan, presentasi ini dapat “memperbaiki” masalah yang sempat timbul pada kesempatan sebelumnya. Berarti, saya sudah masuk ke tingkatan tugas sebagai “Interpreter”. Waduh!

Continue Reading »

My Photo
Tonang Dwi Ardyanto
Solo, Indonesia

Rumah seorang dosen dan dokter, tempatnya hidup sebagai manusia, dengan segala apa adanya. Dibangun dengan dukungan :

UNS-Solo

Rumah Terbuka

Nama:
Situs/email:
Pesan:

Rumah Institusi