Puasa: Nglurug tanpa bala …

Posted by tonang on Sep 10th, 2009

(Tulisan berikut ini adalah isi kultum yang penulis sampaikan memenuhi tugas mengisi kultum di masjid perumahan tempat penulis tinggal. Mohon maaf, ternyata tulisan dalam huruf Arab tidak bisa ditampilkan dengan baik, atau penulis yang belum tahu caranya. Setelah membaca tulisan ini, kalau ada benarnya, itu adalah milik Allah. Sedangkan masih adanya kekurangan, adalah semata-mata kekurangan penulis sendiri. Semoga bermanfaat. Amin. Terima kasih).

Assalamualaikum wr wb.

Tidak seperti ibadah lainnya, puasa memiliki keistimewaan. Semua amal kebaikan manusia akan diberi pahala oleh Allah, secara berlipat dari 10 kali sampai 700 kali. Tetapi untuk puasa, salah satu hadist Qutsi menyebutkan firman Allah:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Allah swt ‘azza wa jalla berfirman: “Kecuali puasa karena ia untuk saya maka saya yang akan membalas untuknya

Kita ingat dalam Perang Badar, kaum muslimin dengan jumlah jauh lebih sedikit, hanya sepertiga dari jumlah musuh, tetapi dengan pertolongan Allah dapat memenangkan perang tersebut. Namun setelah perang, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa “kita baru saja meninggalkan sebuah perang kecil, dan menuju sebuah perang yang besar”. Para Sahabat bertanya “apa perang besar itu ya Rasullulah?” Beliau menjawab “Perang besar itu adalah perang melawan hawa nafsu”.

Hal ini sangat erat kaitannya dengan puasa. Selama puasa, kita dilatih untuk menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan. Makan, minum dan hubungan seks di siang hari, itu hal-hal yang nampak nyata. Lebih dari itu, kita juga menahan diri dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata tidak berguna sebagaimana ciri orang-orang mukmin yang memperoleh keuntungan:

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.

Puasa juga mencirikan usaha melatih kesabaran. Sabar menghadapi ujian berpuasa itu sendiri, sekaligus sabar menghadapi berbagai masalah. Puasa juga melatik ketajaman jiwa sosial, dengan memperbanyak sedekah dan membayar zakat di akhir Ramadhan. Ketajaman itu diperoleh dengan mengekang nafsu sekarah, mendorong semangat berbagi. Jadi intinya, puasa adalah menahan hawa nafsu, dengan satu misi menjadi orang-orang yang bertakwa.

Mungkin banyak juga ibadah lain dengan misi serupa. Tetapi menariknya, dalam hal ini pun ibadah puasa tidak sama dengan ibadah yang lain. Tidak ada yang tahu seberapa “kualitas” kita berpuasa. Hanya kita sendiri dan Allah yang mengetahuinya. Artinya, dalam perang melawan hawa nafsu itu, kita berperang sendirian.

Menarik untuk melihat kaitan kesendirian dalam berperang melawan hawa nafsu selama puasa ini, dengan salah satu pitutur filosofi jawa. Ada beberapa tafsir lain memang. Tetapi saya lebih suka menafsirkannya seperti uraian berikut ini.

Disebutkan dalam Serat Wedhatama agar kita berpegang 4 pitutur (ajaran). Pertama adalah “Nglurug tanpa bala”. Terkait dengan puasa, ini menggambarkan “kesendirian kita dalam melawan hawa nafsu”.

Ada satu kisah menarik. Abdullah bin Dinar meriwayatkan bahwa suatu hari dia berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul niat dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini (disarikan menurut arti):
Kalifah : ‘Wahai anak gembala, kambing siapa sebanyak ini?”
Anak    : “Oh, ini milik tuanku”
Kalifah : “Apakah tuanmu tahu berapa jumlahnya, apakah ada yang sakit, apakah ada yang mati, apakah ada yang beranak dan seterusnya”
Anak    : “Tidak, tuanku hanya mengetahui apa-apa tentang kambing itu dari laporanku”.
Kalifah : “Kalau begitu, bagaimana kalau kau jual kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!”

Anak    : “Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya”
Kalifah : “Atau kita sembelih saja, kita makan bersama-sama”
Anak    : “Bagaimana kalau tuanku bertanya tentang kambing itu”
Kalifah : “Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.”

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ”Fa ainallah?” (Kurang lebih maknanya adalah, ”Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?’

Subhanallah!

Boleh jadi, tidak ada orang yang tahu seberapa kualitas puasa kita. Mudah saja kita membohongi mereka. Tetapi bila kita nglurug tanpa bala dengan keyakinan terus bertanya “Fa ainallah” maka kita pun akan yakin bahwa Allah terus bersama kita dan melihat semua perbuatan kita:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ
… dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan

Keyakinan akan kebersamaan dengan Allah ini yang menjadi modal utama untuk berani nglurug tanpa bala. Sekaligus, menjadi teman yang senantiasa mengingatkan kita dari perbuatan menurutkan hawa nafsu ke hal-hal yang buruk.

Bila perang itu akhirnya kita menangkan, maka ajaran berikutnya menyatakan kita akan menang tanpa ngasorake (menang tanpa mengalahkan). Mengalahkan hawa nafsu, tidak akan membuat kita direndahkan. Justru akan semakin meningkat derajat diri kita. Dalam hal puasa, kita akan makin mendekati derajat orang-orang yang bertakwa.

Selanjutnya, derajat itu akan berimplikasi pula ke ajaran berikutnya sugih tanpa bandha (kaya tanpa harta). Ketakwaan akan membawa ke sifat tawakal hanya kepada Allah. Sifat ini mendorong sikap untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah dilimpahkan Allah. Tidak ada lagi dorongan untuk serakah. Kita rajin berusaha, tetapi hasilnya diserahkan kepada kehendak Allah, yang Maha Tahu yang terbaik bagi kita. Kita senantiasa bersyukur karena:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ…
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Sifat tawakal juga akan membawa kita ke ajaran ke empat yaitu sekti tanpa aji-aji (sakti tanpa membawa senjata). Orang Jawa sering menyebutnya “pasrah mring Pangeran”. Dengan tawakal, kita akan merasa senantiasa aman, tidak penuh was-was dan prasangka negatif. Dengan tawakal kita tidak perlu selalu merasa cemas. Dengan keyakinan telah melaksanakan sesuai perintahnya, maka kita yakin Allah selalu bersama kita:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا…
Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS 9:40)

Saya memandang kaitan berupa garis lurus antara ibadah puasa dengan 4 ajaran tersebut. Hubungan linier itu tergambar jelas. Ajaran dalam filosofi jawa itu telah berumur panjang. Sebagai orang Jawa, kita sering mendengarnya. Bahkan 4 ajaran itu pun tidak jarang tampil dalam wahana dan diskursus nasional. Dan bagi saya, berpuasa sesuai ajaran Islam maupun nilai-nilai ajaran filosofis tersebut, ternyata berada di jalur yang sama. Bagi saya, inilah makna tersembunyi dari ujaran dalam tembang Pangkur:

Mrih kretarto pakartining ngelmu luhung
Kang tumprap ing tanah Jawi
Agama ageming aji.

Selamat meneruskan ibadah puasa, semoga meningkat derajat kita. Amin.

Wassalamualaikum wr wb

Marhaban ya Ramadhan …

Posted by tonang on Aug 22nd, 2009

Hari ini kita memulai Ramadhan 1430 H (2009). Tadi setelah sahur menunggu subuh, saya menulis suatu renungan berjudul Pukulan ke 100 itu. Terpikir kemudian, saya – semoga tidak termasuk Anda – tanpa sadar terjebak pada pola pikir yang sama ketika menghadapi Ramadhan.

Selama ini, kita lihat bahwa memasuki Ramadhan, semangat kita beribadah begitu menggelora. Masjid penuh sesak kadang sampai tidak cukup memuat jamaah. Mushaf Al Qur’an yang selama ini “jadi hiasan” – kadang sampai berdebu – sekarang dibuka. Target “meng-khatamkan” selama Ramadhan sering terpancang di awal bulan. Menakjubkan!

Saya – sekali lagi semoga tidak termasuk Anda – seolah berpikir mirip peribahasa “panas setahun dibayar hujan sehari”. Bukan berarti peribahasa itu salah, saya yang salah menerjemahkannya. Seolah-olah, 11 bulan sebelumnya itu cerita lalu. Yang penting 1 bulan Ramadhan ini kita bersungguh-sungguh.

Padahal, yang terpikir oleh saya sekarang, 1 bulan itu hanya seperti “pukulan ke 100″ di tulisan sebelumnya. Saya tidak bermaksud mengurangi keluhuran Bulan Ramadhan. Tetapi sebenarnyalah, suatu yang absurd bila kita lantas berpikir, mau seperti apapun 11 bulan sebelumnya, yang penting Ramadhan kita “baik-baik”. Saya menjadi sadar sekarang bahwa seharusnya 11 bulan sebelumnya itu pun penuh usaha, penuh ibadah. Memasuki bulan Ramadhan, kita tinggal “tancap gas” untuk memaksimalkan hasil menjelang garis finish. Dengan demikian, perjuangan 11 bulan sebelumnya itu akan tersempurnakan pada bulan Ramadhan.

Sungguh, ternyata banyak jalan menyadarkan kita. Karena menulis tulisan sebelumnya itu, saya tersadarkan oleh kesalahan selama ini. Semoga momentum kesadaran itu akan terus berdenyut dan makin kencang.

Saya berdoa semoga kita berhasil menyempurnakan perjuangan ibadah tahun ini dengan bersungguh-sungguh menjalani Bulan Ramadhan. Amin.

Selamat ber-Ramadhan!

Pukulan ke 100 itu …

Posted by tonang on Aug 22nd, 2009

Beberapa waktu lalu, ada pelajaran sangat berharga yang saya dapatkan. Secara mendadak, malam-malam, ada perintah dari pucuk pimpinan untuk suatu tugas tertentu. Tugas ini sebenarnya bagian final atau tahap akhir dari suatu proses panjang. Ada sebuah tim yang mengikuti proses panjang itu. Sementara saya sendiri tidak tahu menahu proses panjang itu karena sama sekali tidak terlibat. Karena sesuatu hal, malam itu saya ditugaskan untuk segera bergabung pada pagi harinya.

Awalnya, bayangan tugas itu relatif tidak sulit. Saya diminta menemani delegasi tamu dari sebuah lembaga keuangan internasional. Delegasi itu bertujuan melakukan visitasi untuk penilaian (appraisal) proposal kredit lunak. Bayangan yang saya tangkap, saya bertugas mulai dari menjemput, menemani sepanjang hari sampai malam, begitu terus sampai tamunya pulang. Sepanjang waktu itu, tugas saya menjawab hal-hal ringan – artinya tidak terkait langsung dengan pokok masalah. Misalnya sekedar ucapan salam, cerita ringan seputar kota Solo, mencari tahu keinginan mereka tentang agenda kerja, ingin makan dimana dan sejenisnya. Sedangkan saat tamu bertemu dengan tim tuan rumah, tugas saya sebagai penerjemah. Pendek kata, tugas saya adalah sebagai translator bagi tamu tersebut.

Yang terjadi kemudian, situasi begitu dinamis. Ternyata, sebelumnya telah terjadi “masalah” sehingga proses di tahap final itu hampir terhenti. Karena itu, datanglah delegasi tersebut langsung ke lapangan. Pada perkembangannya, saya mendapat tugas untuk menyampaikan presentasi. Masalahnya, pengetahuan saya tentang materi presentasi itu sendiri hampir nol. Bingung kan?

Jadilah kemudian saya terlibat diskusi dalam waktu mepet, hanya sehari, padahal proses sebelumnya sudah begitu panjang. Malamnya, saya berjaga untuk mencoba memahami benang merah masalah. Kemudian menuangkannya ke dalam presentasi. Tentu saja, saya lakukan perubahan tampilan isi presentasi, agar saya sendiri tidak kebingungan membacanya. Juga – harapan saya – presentasi bisa concise, precise but convincing. Karena yang diharapkan, presentasi ini dapat “memperbaiki” masalah yang sempat timbul pada kesempatan sebelumnya. Berarti, saya sudah masuk ke tingkatan tugas sebagai “Interpreter”. Waduh!

Continue Reading »

Belajar dari kasus Prita-OMNI: Menghadapi Pasien “Pinter”

Posted by tonang on Jun 14th, 2009

(Solopos, 18 Juni 2009)

Kasus Prita-OMNI terus bergulir di pengadilan. Berawal dari menulis keluhan melalui email pribadi, kemudian beredar di milis, menghadapi tuntutan hukum, menjalani hukuman, sampai akhirnya menjadi berita nasional. Penulis tidak akan membahas dari sisi hukum, karena tidak berkompeten. Yang menarik adalah interaksi dokter dan pasien “pinter”di jaman internet yang dalam pandangan penulis menjadi pangkal kasus tersebut.

Sesuai perjalanan sejarah, dinamika interaksi kepercayaan dokter pasien mengenal 4 model perkembangan (Collste, 2002). Awalnya dikenal engineering-model, yang menempatkan pasien sebagai obyek seperti seorang mekanik memperbaiki mobil rusak. Jelas, hubungan kemanusiaan kurang bisa diharapkan pada model ini.

Kedua, model healing-relationship menekankan hubungan saling pengertian antara dokter dan pasien. Filosofinya, penyakit tidak hanya menganggu kesehatan tubuh tetapi juga keseimbangan batin penderitanya. Model ini menempatkan dokter sebagai healer (penyembuh jiwa dan raga).

Continue Reading »

Bekam dan kedokteran

Posted by tonang on Nov 19th, 2008

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat “tugas” mengisi kultum setelah sholat Subuh di Perum UNS Jati. Saya sebut “tugas” karena bagi saya, itu cara para senior – keimanan, usia, ilmu maupun yang lain – untuk memaksa saya belajar. Semalaman saya bingung akan mengisi apa. Ini merupakan tugas ke 3 saya mengisi kultum. Yang pertama dulu, pas Ramadhan, saya isi soal manfaat sholat dari sisi kesehatan/kedokteran. Kesempatan kedua, saya pilihkan hasil bacaan dari buku “Matematika Al Qur’an”. Harapannya, materi kultum memiliki core theme yang sejalan – kira-kira – Islam dan Ilmu Pengetahuan. Atau sebenarnya, sebatas kemamapuan saya, di bidang kesehatan/kedokteran.

Setelah bingung dan semakin bingung – maklum cupet sekali ilmunya – saya menemukan topik bekam.Tapi apa hubungannya untuk kultum? Topik ini menarik. Semakin banyak dibuka klinik-klinik bekam. Saya telusuri informasinya di internet, termasuk beberapa rekaman video dan foto pelaksanaan bekam. Dasar yang dipakai adalah dalil agama (Hadist Nabi – sejauh yang saya temukan, mohon dikoreksi).

Nama lain teknik bekam ada beberapa: Hijamah, capping therapy, leach therapy dll. Dari beberapa paparan, prinsip utamanya adalah membersihkan darah dari timbunan kotoran dan darah yang statis. Tempat pengambilannya di beberapa tempat tertentu. Diyakini, pembersihan darah kotor di titik-titik tersebut berhubungan dengan penyembuhan beberapa penyakit – ada yang menyebut sampai 72 macam penyakit. 

Terus terang, kening saya berkerut. Teknik bekam dengan dasar pemikiran tersebut, berkembang dalam praktek kedokteran di masa-masa awal perkembangan dulu. Tapi setelah berkembangnya pemamahan antara agent-host-pathogen, konsep penyembuhan bergeser ke penyakit dan agen penyebabnya. Dengan konsep ini, tindakan pembersihan darah dengan mengeluarkannya di satu titik, sulit diterima lagi. Tubuh kita memiliki 4-5 L darah. Bagaimana ini bisa dibersihkan hanya di beberapa titik? 

Continue Reading »

Mengatur, bukan melarang merokok …

Posted by tonang on Nov 18th, 2008

Seorang pengunjung berkomentar di blog ini tentang kebiasaan merokok: Lalu bagaimana dengan dokter2 yang ngerokok?? Kalau di RSDM kami pakai kode “Nebu” (Plesetan dari kata Nebulizer)… Dokternya ngerokok lalu pasiennya gimana?? “Ah, pak dokter juga ngerokok koq? jadi sya ikut aja.

Pahit memang. Perkenankan saya menampilkan ulang tulisan tentang rokok ini 3 tahun lalu (Mei 2005). Sedikit kutipannya di bawah, selengkapnya silakan diunduh bila menghendaki.  

Saya kira, yang perlu diatur adalah tempat-tempat bagi para perokok. Soal dokter merokok, di Jepang pun banyak dokter perokok. Namun, mereka tidak berani merokok di sembarang tempat. Hanya di tempat-tempat dan waktu khusus mereka merokok. 

Beberapa hari kemarin, di Jakarta dilakukan razia merokok. Pelaksananya birokrat, aparat keamanan, termasuk LSM. Tujuannya, agar Perda yang sudah diputuskan, bisa dilaksanakan. Itu pun – katanya – setelah dibutuhkan waktu sosialisasi selama 3 tahun terakhir. 

Beberapa waktu lalu, terdengar lontaran opini tentang tuntutan agar MUI mengeluarkan fatwa “merokok itu haram”. Terus terang, sebagai pribadi – sebagai sebuah keyakinan – saya sependapat. Namun, ada kekhawatiran juga, bahwa keluarnya fatwa semacam itu, bukan tidak mungkin justru kontraproduktif bagi citra MUI sendiri. Rujukannya? Toh Perda dengan ancaman hukuman jelas saja, sejauh ini tidak produktif. Bahkan setelah sosialisasi 3 tahun. Padahal isinya “hanya” mengatur, bukan melarang. 

Continue Reading »

Terjemahan Buku Baru

Posted by tonang on Nov 5th, 2008

Assalamualaikum,

Setelah sekian lama tertunda, tersendat oleh pergolakan jalan hidup, ada 2 buku lagi yang selesai saya terjemahkan. Proyek ini kelanjutan dari proyek terdahulu. Sempat melampaui batas waktu, Alhamdullilah, akhirnya 2 buku tersebut terselesaikan. Keduanya adalah seri Sciences Essentials: Biology dengan judul:

 

 

Agak berbeda dengan proyek terdahulu. Meskipun sama-sama buku sains untuk anak-anak, narasi lebih dominan dibandingkan gambarnya. Cukup tebal, masing-masing 48 halaman full collor. Saat ini buku tersebut sedang dalam proses editing untuk nantinya diterbitkan.

Mungkin “kerja” ini tidak banyak artinya, tapi bagi saya ini sangat berarti. Semoga menjadi batu pijakan bagi saya untuk kembali ke jalur yang benar. Amin.

Terima kasih ya. 

Wassalam.

 

Keep your head up!

Posted by tonang on Nov 5th, 2008

Assalamualaikum,

Hari-hari ini, ada saat dimana saya merasa terbelenggu oleh masa lalu – atau mungkin lebih tepat kesalahan masa lalu. Belenggu itu begitu menyesakkan. Kegamangan, kebingungan, kemarahan, rasa malu semua menyusup dalam-dalam ke lubuk kalbu. Rasa ragu, membelenggu langkah untuk bergerak maju. Wajah tertunduk, terselubung oleh rasa malu. 

Padahal, waktu akan terus berlalu. Tidak ada pilihan selain kita harus terus maju. Tidak mungkin kita memutar mundur jarum jam, meski dengan alasan baik untuk memperbaiki kesalahan sekalipun. Pilihan kita hanya belajar dan bercermin dari sejarah – dan kesalahan kita di masa lalu – agar tidak terulang. Gempuran, benturan, goncangan sampai halangan, pasti akan kita temui. Berat itu pasti. 

Lama saya termenung – dan masih sering termenung – terduduk dalam kegamangan itu. Sampai kemudian ada yang menasehati saya: Tidak ada pahlawan yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada penjahat yang tidak punya masa depan.

Saya jelas tidak berani menganggap diri kelas pahlawan, dan semoga juga bukan kelas penjahat. Akhirnya, saya hanya bisa berusaha tegar. Harapan itu masih ada. Apa yang akan dan harus terjadi, tidak ada pilihan lain, harus saya hadapi. Semoga jejak masa lalu itu, bisa menjadi cermin bagi langkah ke depan.  Dengan iringan permohonan maaf atas segala kesalahan di masa lalu, semoga belenggu itu segera terurai, meninggalkan kebaikan dan kebahagiaan bagi semua. Amin.

Keep your head up!

Wassalam.

 

Sumber energi kehidupan …

Posted by tonang on May 5th, 2008

Assalamualaikum,

Pelajaran hidup yang saya peroleh dalam 5 tahun terakhir ini, rumah dan keluarga adalah sumber energi hidup yang sebenarnya. Ungkapan “Rumahku adalah surgaku” memang benar adanya. Energi melimpah dari rumah, akan menjadi bekal berharga menghadapi hidup penuh tantangan di luar rumah. Kendali diri, gejolak emosi dan rasa perih di hati, akan teredam dengan kesejukan siraman bahagia di rumah dan keluarga.

Namun, ungkapan itu akan berlaku juga sebaliknya “Rumahku adalah nerakaku”. Alih-alih siraman penyegar energi yang diraih, justru sebaliknya energi makin terkuras habis di rumah. Akibatnya, hidup penuh tantangan dan godaan di luar rumah, harus dihadapi dengan energi yang terlanjur kering. Ibarat ranting dan daun kering, hanya selapis tipis jaraknya dari risiko terbakar oleh percikan api yang kecil sekalipun.

Lebih berat lagi, kalau percikan-percikan kecil itu pelan-pelan, sejengkal demi sejengkal, terus menggerogoti. Tinggal akhirnya tanpa sadar, bangunan itu sudah begitu keropos, hingga tiupan angin lembutpun bisa meruntuhkannya. Saat itu, tinggalah sesal yang selalu datang terlambat. Dan, ketika lutut tak kuasa lagi melangkah, ketika jatuh terduduk, bersimpuh tertunduk, barulah hati terbuka mengingat kuasaNya. Percayalah, jangan pernah membayangkan harus berada di posisi seperti itu.

Semoga Alloh membuka pintu hidayahNya, mengampuni dosa dan kesalahanku, serta memberi kesempatan bagiku belajar memasukinya lagi, meski dengan kunci yang terlanjur pernah kupatahkan.* Amin.

Wassalam,

* Sedikit meminjam lirik lagu Ebiet G Ade

Please forgive me, my daughter, forget me not …

Posted by tonang on May 2nd, 2008

Putriku, maafkan aku tidak bisa selalu hadir di sisimu … (Mei 2008)

…. Your children need your presence more than your presents … (Jeese Jackson)

Semoga Alloh senantiasa menyertai langkah kita dengan hidayahNya …

… While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about … (Angela Schwindt)

Jangan lupakan aku Putriku … Amin …

Next »

My Photo
Tonang Dwi Ardyanto
Solo, Indonesia

Rumah seorang dosen dan dokter, tempatnya hidup sebagai manusia, dengan segala apa adanya. Dibangun dengan dukungan :

UNS-Solo

Rumah Terbuka

Nama:
Situs/email:
Pesan:

Rumah Institusi